Apakah Kayu Bajakah Bisa Menyembuhkan Kanker Payudara?
Heboh Kayu Bajakah Obat Kanker Payudara
![]() |
Ide itu murah. Mungkin lantaran sedemikian murahnya, jarang ada yang mau menindaklanjutinya. Berbeda dengan 3 pelajar Sekolah Menengah Atas ini. Yazid, salah satu dari 3 pelajar SMAN 2 Palangkaraya sangat takjub dengan hasil dari ikhtiar neneknya yang rajin mengkonsumsi kayu bajakah.
Sang nenek yang menderita kanker payudara stadium 4, diyatakan sembuh oleh dokter setelah selama 4 bulan mengkonsumsi rebusan batang kayu Bajakah. Kayu bajakah adalah sejenis akar-akaran dari pohon yang tumbuh di lahan gambut dan endemik di wilayah Kalimatan. Dikenal sebagai sumber pengobatan tradisional, rebusan kayu Bajakah dikonsumsi oleh masyarakat Dayak secara turun-temurun.
Sang nenek yang menderita kanker payudara stadium 4, diyatakan sembuh oleh dokter setelah selama 4 bulan mengkonsumsi rebusan batang kayu Bajakah. Kayu bajakah adalah sejenis akar-akaran dari pohon yang tumbuh di lahan gambut dan endemik di wilayah Kalimatan. Dikenal sebagai sumber pengobatan tradisional, rebusan kayu Bajakah dikonsumsi oleh masyarakat Dayak secara turun-temurun.
Kemudian Yazid bersama dua teman lainnya (Anggina dan Aysa),menjelaskan kesembuhan neneknya kepada Ibu Helita, guru yang membimbing mereka untuk mengikuti karya ilmiah antar siswa/i se-provinsi Kalimantan Tengah.
Paparan yazid disetujui oleh Sang guru pembimbing dan mulailah mereka mengikuti lomba setingkat provinsi dan nasional. Hasilnya mereka menyabet juara 1. Puncaknya saat Anggina dan Aysa (Yazid tidak ikut serta) berhasil menyabet medali emas dalam lomba karya ilmiah tingkat dunia di Korea Selatan.
Tiga apresiasi Atas Keberhasilan Yazid DKK
1. Membongkar mistis
Salah satu ciri peneliti yaitu jeli mengenali problem sekitar, membayangkan kemungkinan solusinya, dan menguji kemungkinan tersebut secara sistematis. Peneliti tidak mengalah begitu saja ketika dihadapkan ke fenomena mistis, lantaran mencari dan menemukan mekanisme atau rumus tentu akan memperlihatkan dampak baik pada masyarakat. Disini nampak calon ilmuwan kita berupaya mereproduksi apa yang nenek mereka lakukan yaitu dengan menciptakan rebusan kayu bajakah yang diolah secara sederhana (cukup dikeringkan dengan sinar matahari, kemudian direbus). Menariknya mereka sudah berpikir untuk menciptakan model tumor pada mencit dan melaksanakan observasi apakah mencit yang diminumkan rebusan bajakah mengalami pengecilan tumor. Apa yang mereka lihat, tumornya tidak hanya mengecil bahkan menghilang! Persis ibarat apa yang sang nenek alami.
2. Komitmen
Dari kisah yang diceritakan, para peneliti muda ini tidak mengajukan anjuran riset dan nampaknya mendanai secara swadana. Bahkan mereka dan keluarganya pun rela mengeluarkan dana 30 juta rupiah untuk berangkat ke Korea berkompetisi di ajang ilmiah.
Disamping studi pada mencit, yang tentu tidak murah, mereka juga berkolaborasi dengan universitas untuk melihat konten apa saja yang ada di sediaan Bajakah. Saya bayangkan, niscaya ada biayanya. Komitmen waktu dan dana ibarat ini tidak gampang ditemui di generasi muda kita.
Disamping studi pada mencit, yang tentu tidak murah, mereka juga berkolaborasi dengan universitas untuk melihat konten apa saja yang ada di sediaan Bajakah. Saya bayangkan, niscaya ada biayanya. Komitmen waktu dan dana ibarat ini tidak gampang ditemui di generasi muda kita.
Maka ketika dua siswi menyatakan cita-citanya untuk menjadi dokter, saya bisa mengapresiasinya. Coba saja lakukan survey pada mahasiswa gres (maba) fakultas kedokteran (FK) di negeri ini, tanyakan ke mereka the quintessential question "Kenapa mau jadi dokter?" Ketika mereka menjawab secara klise," lantaran ingin membantu sesama."
Kita harus tanyakan lagi, "apa bukti komitmen kalian untuk membantu orang dengan memasuki fakultas kedokteran?" Berapa banyak dari lulusan Sekolah Menengan Atas ini pernah mencicipi menjadi sukarelawan di kemudahan kesehatan, membantu, mendampingi, mendengarkan pasien, mencicipi magang di unit gawat darurat, menghabiskan waktu meneliti di laboratorium medis di waktu senggang mereka, di masa liburan mereka? Dua ilmuwan muda dari SMA2 Palangkaraya ini layak untuk mendaftar masuk FK lantaran sudah mencicipi 'manisnya' dunia penelitian kedokteran yang sarat dengan ketidakpastian.
Kita harus tanyakan lagi, "apa bukti komitmen kalian untuk membantu orang dengan memasuki fakultas kedokteran?" Berapa banyak dari lulusan Sekolah Menengan Atas ini pernah mencicipi menjadi sukarelawan di kemudahan kesehatan, membantu, mendampingi, mendengarkan pasien, mencicipi magang di unit gawat darurat, menghabiskan waktu meneliti di laboratorium medis di waktu senggang mereka, di masa liburan mereka? Dua ilmuwan muda dari SMA2 Palangkaraya ini layak untuk mendaftar masuk FK lantaran sudah mencicipi 'manisnya' dunia penelitian kedokteran yang sarat dengan ketidakpastian.
Dokter bukanlah sekedar sosok pintar yang cakap dengan logika, angka dan data, tetapi beliau juga sosok humanis yang peka dalam mengkomunikasikan hasil diagnosa dan prognosis penyakit ke pasiennya. Dia harus mempunyai tenggang rasa sehingga mendapatkan kepercayaan dari pasiennya sehingga bisa bekerja sama untuk melaksanakan terapi.
Pada alhasil pasien bukanlah sekedar kantong garam dengan sinyal listrik, mereka yaitu insan yang punya perasaan dan harapan, pikiran dan perasaan. Demikian juga seorang Dokter yaitu sosok strategis untuk membantu sang pasien dengan ilmunya bersamaan dengan sisi kemanusiaannya. Disitulah calon maba FK seharusnya berpikir, apakah profesi dokter yaitu profesi untuknya, lantaran masih banyak profesi lain yang semulia dokter untuk membantu sesama kita.
Pada alhasil pasien bukanlah sekedar kantong garam dengan sinyal listrik, mereka yaitu insan yang punya perasaan dan harapan, pikiran dan perasaan. Demikian juga seorang Dokter yaitu sosok strategis untuk membantu sang pasien dengan ilmunya bersamaan dengan sisi kemanusiaannya. Disitulah calon maba FK seharusnya berpikir, apakah profesi dokter yaitu profesi untuknya, lantaran masih banyak profesi lain yang semulia dokter untuk membantu sesama kita.
3. Kesinambungan dan Kolaborasi
Bu Helita, sang guru pembimbing mereka mempunyai poin penting untuk tidak menjelaskan secara detil lokasi Bajakah secara spesifik, dengan alasan untuk menghindari eksploitasi alam. Ini ada benarnya. Penapisan zat aktif anti kanker dari materi alam tidak mudah. Biasanya, jumlah zat aktif dari materi mentah sangat sedikit. Jangan hingga jutaan batang pohon, apalagi pohon langka habis ditebang “hanya” untuk mendapatkan beberapa gram zat aktif misalnya. Contohnya yaitu paclitaxel, obat anti kanker yang ditapis dari materi alam yaitu taxol (dari kulit kayu Taxus brevifolia ). Ketika zat aktif ditemukan dan struktur molekul kimianya diketahui secara rinci, para peneliti melaksanakan produksi zat aktif secara sintetik sehingga alam pun terjaga.
Untuk memahami kandungan zat aktif, tim SMA2 ini juga berkolaborasi dengan dengan peneliti Dr Eko Suhartono, kepala laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat. Semangat kerja sama ini patut dihargai lantaran ilmuwan tidak bekerja sendiri. Tergantung dari pertanyaan penelitian, seorang ilmuwan harus tahu kemana atau siapa yang dianggap mumpuni untuk membantu memecahkan problem yang dihadapi.
Tiga catatan
1. Pusat bimbingan
Disamping mengapresiasi, kita tentu berharap bahwa ada bimbingan lanjutan untuk para peneliti muda, tidak hanya terhadap anak muda yang diekspos media tetapi juga ribuan anak muda lainnya di banyak sekali kampus tanah air yang secara senyap dan tekun meneliti dan menapis biodiversitas kekayaan alam yang berpotensi mempunyai zat anti kanker. Dimana bimbingan lanjutan ini bisa dilakukan? Apakah Indonesia sudah mempunyai sentra penelitian onkologi berkelas dunia? Apakah kita sudah mempunyai sentra kanker sekelas MD Anderson Cancer Center, Memorial Sloan Kettering, atau Dana Farber Cancer Center? Saat ini kita masih ada jurang antara pelayanan dan penelitian, belum ada sinergi agenda dan pembiayaan secara konsisten.
Ini menjadi pekerjaan rumah bersama, bahwa dalam penelitian dan pendidikan onkologi perlu integrasi dan kerja sama lintas sentra penelitian dan disiplin ilmu.
Misalnya, untuk memahami dan meneliti faktor risiko terjadinya dan tingkat keberhasilan terapi kanker payudara memerlukan data kependudukan (spasial geografis), rekam medis, dan bank jaringan. Bayangkan chip yang sudah terbenam dalam elektronik KTP yang kita miliki ini akan merekam data setiap pasien yang tiba berobat ke kemudahan kesehatan wacana alamat daerah tinggalnya, deskripsi profesi, sikap dan sejarah reproduksinya, riwayat pengobatan dan tanggal kekambuhannya, dan status histopatologis dan penanda biologis tumornya. Analisa big data ibarat ini memerlukan banyak pakar kedokteran klinis, statistik, kesehatan masyarakat, biologi dasar, biomedis, farmasi, dan tentunya ekonomi sehingga mendapatkan citra yang utuh wacana kualitas layanan kesehatan dan pembiayaannya yang menyeluruh sehingga bisa melahirkan penemuan dengan penelitian berkelanjutan.
2. Observasi, mekanisme, dan uji klinis
Ada hal yang menarik dari kisah sang nenek penderita kanker payudara stadium 4 yang kabarnya "sembuh" dengan mengkonsumsi air rebusan bajakah lantaran terkendala biaya.
Apa itu sembuh? Berapa banyak yang sembuh? Dalam konteks kanker payudara, makna sembuh berarti tidak timbulnya kekambuhan dalam 5 tahun atau 10 tahun. Ini berlaku untuk tipe kanker payudara stadium awal. Untuk stadium 4, kemungkinan untuk 'sembuh' memang lebih kecil (sekitar 25%) mengingat sudah terjadi sebaran (metastasis) ke organ lain yang memang bisa berdampak fatal, dibandingkan stadium 1-2.
Lalu apakah benar, sang nenek benar-benar sembuh tanpa mendapatkan terapi konvensional? Apalagi sehabis mengkonsumsi rebusan bajakah?
Apakah zat aktif dalam rebusan Bajakah bisa 'melenyapkan sel kanker'? Berapa banyak warga Dayak penderita kanker payudara dengan stadium yang sama juga 'sembuh' dengan mengkonsumsi rebusan tersebut? Atau, secara kebetulan, sang nenek sedang mengalami fenomena 'spontaneous breast cancer regression' (hilangnya kanker secara tetiba tanpa terapi yang adekuat)?
Fenomena spontaneous breast cancer regression ini diakui sangat jarang terjadi (Dani et al 2015). Kasus ini pertama kali diteliti secara detil oleh tim Dr Lukeman dari MD Anderson Cancer Center di tahun 1978. Seorang perempuan sepuh berusia 60 tahun mengalami kanker payudara dengan metastasis ke tulang rusuk disertai efusi pleura, artinya mengalami stadium 4. Sang pasien menyadari adanya retraksi di payudara kirinya di tahun 1972 bulan november, namun membiarkannya hingga bulan Januari 1973 kemudian berkonsultasi dengan dokter. Setelah diperiksa dan dibiopsi patologi, payudara kirinya tumbuh kanker yang sudah terfiksasi dan tidak memungkinkan dibedah. Pasien kemudian mendapatkan radioterapi dengan takaran 5,000 rads dalam kurun 5 minggu. Setelah follow up di bulan september 1973, pasien mengalami efusi keganasan di paru. Sejak itu pasien tidak mendapatkan terapi apapun. Menariknya ketika pasien kontrol di tahun 1974, tidak ada lagi efusi paru, hingga tahun 1978, pasien tetap bebas dari metastasis.
Dalam artikelnya, Dr Lukeman dan tim berspekulasi bahwa mekanisme thoracentesis (dalam upaya mengambil efusi pleura) secara tidak sengaja menjadikan abuh yang alhasil mengaktikan sistem imun pasien dan berdampak terhadap lenyapnya sel kanker. Hal ini ibarat dengan legenda St Perigrine di kurun 13 yang mengalami tumor namun alhasil hilang sehabis mengalami abuh hebat. Konsep aktifasi daya tahan badan (sistem imun) ini dikenalkan oleh William Coley dari New York dimana beliau menginjeksi gabungan basil (Coley Vaccine) untuk menterapi kanker kandung kemih. Namun protokol Coley ini sulit untuk diulang dan menjadikan risiko tinggi.
Kisah ini memberi pelajaran bahwa fenomena hilangnya kanker secara impulsif memang bisa terjadi, dan memang perlu penelitian lebih lanjut. Artinya, klaim 'konsumsi bajakah' dengan 'kesembuhan', bisa jadi adalah co-incidence atau kebetulan saja, dan klaim tersebut memang tidak bisa diterima lantaran klaim testimoni bukan bukti yang diterima secara medis, mengingat dampak berbahaya terhadap kualitas pelayanan kesehatan masyarakat apabila dikonsumsi untuk menggantikan terapi standar.
Apakah ada yang unik dari Kalimantan Tengah?
Bajakah bahwasanya sudah dikonsumsi oleh masyarakat dan diklaim mempunyai khasiat untuk mengobati banyak sekali klaim penyakit, termasuk keganasan. Di satu sisi, konsumsi bajakah berarti aman. Namun pertanyaannya apakah efektif? Lebih jauh lagi kita bertanya, apakah efektif untuk mencegah kanker atau efektif untuk mengobati kanker. Ini dua hal yang berbeda. Kalau kita lihat dari data Pusdatin Kemenkes tahun 2016 jumlah total (prevalensi) pasien kanker payudara di Kalimatan Tengah termasuk rendah (112 pasien atau 0.1 per 1,000 penduduk), Gorontalo (111 pasien atau 0.2 per 1,000 penduduk ) dan Papua Barat (80 pasien atau 0.2 per 1,000 penduduk). Sebagai perbandingan, di Kalimantan Timur ditemukan 1,879 pasien atau 1 per 1,000 penduduk), Kalimantan Selatan 1,328 pasien atau 0,7 per 1,000 penduduk).
Memang data yang dirilis pusdatin ini perlu dianalisa lebih lanjut, lantaran ini yaitu data prevalensi yaitu kumpulan jumlah pasien gres dan pasien usang (yang masih hidup di tahun 2016). Memang sekilas, data ini memperlihatkan ada sesuatu di Kalimatan Tengah mengapa jumlah penderita kanker termasuk rendah. Apakah memang lantaran konsumsi yang rutin dari Bajakah? Apakah lantaran keunikan variasi genetik penduduk orisinil kalimantan tengah yang 'kebal' terhadap kanker payudara? Apakah memang ada keunikan dari riwayat reproduksi penduduk di sana yang memperlihatkan perlindungan dari kanker payudara (seperti umur mens yang cenderung terlambat? usia menikah dan hamil muda dibawah 20 tahun? Atau ada alasan lain yang lebih praktis, yaitu keterbatasan sumber daya dalam upaya mendata jumlah pasien secara akurat..
Kedua, data ini menurut data pasien yang didiagnosa dokter di rumah sakit, bukan menurut alamat daerah tinggal pasien, sehingga faktor risiko terkait lokasi geografis dan paparan lingkungan tidak bisa dianalisa. Jogjakarta yang dikenal dunia merupakan sentra akademik penelitian kanker payudara malah menempati peringkat tertinggi yaitu 2.4 per 1,000 penduduk! Tentu saja kita tidak bisa eksklusif menyimpulkan bahwa ada keunikan "Jogja Factor" yang berkontribusi, ibarat paparan konsumsi Gudeg Jogja atau keunikan variasi genetik Jogjaness, mengingat Jogja mendapatkan rujukan pasien dari propinsi lain, dan sebagai sentra akademik, tentu tim Jogja paling rajin untuk mengumpulkan data.
Mekanisme anti Kanker Bajakah?
Uji awal kandungan Bajakah yaitu senyawa alkanoid, saponin, terpenoid, flavonoid yang memang jamak ditemukan dari ekstraksi tanaman. Lebih jauh lagi senyawa tersebut juga dikenal mempunyai kandungan antioksidan yang tinggi. Namun, apakah antioksidan itu sendiri yaitu zat yang bertanggungjawab terhadap penyembuhan kanker?
Sebelum kita memahami konsep pengobatan kanker kita mulai dulu dengan bagaimana kanker terjadi. Kanker yaitu hasil evolusi perubahan atau mutasi genetik bertahun-tahun yang pada alhasil merubah sosok sel yang 'nerimo' menjadi sel yang 'supremo'. Sel epitel payudara mempunyai koleksi verbal banyak sekali gen dengan satu tujuan utama: produksi susu bayi. Maka sel epitel payudara tidak perlu mempunyai kemampuan untuk jalan-jalan, berpindah-pindah, lantaran gen yang diharapkan untuk jalan-jalan atau berpindah-pindah tidak aktif. Sebaliknya sel limfosit yang tugasnya memang harus berpatroli memburu basil mempunyai sekumpulan gen yang harus aktif ekspresinya. Nah, ketika sel mengalami mutasi, susunan gen dan ekspresinya bisa berubah. Gen yang awalnya tidak aktif menjadi aktif. Sel payudara yang telah bermutasi menjadi sel kanker juga mempunyai kemampuan gres untuk bisa jalan-jalan (atau metastasis). Proses evolusi mutasi yang melibatkan banyak gen akan menyeleksi sel dengan kombinasi mutasi gen yang pas, yang mempunyai sifat yang memungkinkan untuk bisa survive dalam kondisi sulit, ibarat hidup berdesak-desakan dalam kondisi oksigen yang minim dan bisa pindah ke organ lain, menciptakan koloni baru, yang tidak akan bisa dilakukan oleh sel normal yang sudah 'nerimo' dengan habitat aslinya.
Salah satu sumber mutasi yang paling sering yaitu radikal bebas yang diproduksi badan itu sendiri sebagai konsekuensi makhluk yang menghirup oksigen dalam proses bernafas untuk menghasilkan energi dari asupan makanannya. Maka konsumsi herbal atau ekstrak flora yang kaya dengan flavonoid contohnya memang bisa mengurangi beban radikal bebas dan juga mengurangi beban mutasi yang terjadi di dalam badan kita.
Namun, apabila konsumsi herbal itu dipakai untuk "membunuh" sel kanker, maka ini yaitu taktik salah alamat. Sel kanker ini sudah mengalami mutasi maka mengurangi radikal bebas tidak memperlihatkan imbas terhadap sel kanker. Oleh karenanya konsumsi herbal secara rutin memang bisa memperlihatkan imbas pencegahan (selama tidak banyak ditambahkan gula) terhadap terjadinya kanker, tapi bukan untuk mengobati kanker.
Kalau kita perhatikan zat kemoterapi yang berasal dari flora ibarat paclitaxel (yang merupakan standar kemoterapi untuk kanker payudara), mekanismenya bukan melalui penghambatan radikal bebas. Paclitaxel membunuh sel kanker, sel yang aktif berproliferasi, dengan menciptakan mikrotubul menjadi kaku sehingga mengganggu proses pembelahan sel atau mitosis. Silakan simak video dibawah ini.
Mekanisme kerja paclitaxel yaitu menghambat kinerja microtubules di fase mitosis
Uji klinis
Ketika Prof Aru menyatakan perlunya uji klinis untuk menandakan bahwa kandungan Bajakah berpotensi mempunyai zat aktif anti kanker, sebagian mungkin bertanya untuk apa? Bukankah testimoni yaitu pengalaman nyata? Masalah dari testimoni yaitu 'data gagal yang tersembunyi'. Saya sendiri belum pernah mendengar testimoni negatif dari produk tertentu, "saya pengguna produk ini, dan ternyata hasilnya tidak sesuai dengan yang saya harapkan."
Lalu bagaimana dengan hasil uji tumor di mencit yang hilang sehabis diminumi ekstrak Bajakah?
Di sini perlunya bimbingan tahap lanjut, lantaran dalam siaran TV tidak dirinci desain penelitian dari uji coba mencit. Saya sempat mbatin, "bagaimana cara adik2 tsb menginduksi tumor pada mencit, apakah tumor itu juga bisa menghilang sendiri?" Kita tidak tahu datanya, berapa mencit yang dicoba, apakah ada kelompok kontrol mencit yang diinduksi tumor tapi hanya diberikan air bening saja tanpa Bajakah? Di laboratorium besar, model tumor payudara mencit pun banyak ragamnya. Saya sendiri dulu semasa doctoral training, menginduksi tumor dengan mutasi gen BRCA1 dan itu perlu waktu 1 tahun lebih sebelum alhasil mencit mengalami tumor! Kenapa harus dengan mutasi gen BRCA, lantaran ketika itu saya tertarik untuk menandakan adanya hubungan alasannya jawaban antara mutasi gen dan terjadinya tumor.
Maka uji klinis yaitu upaya obyektif untuk membandingkan imbas dua terapi yang berbeda. Di bawah ini yaitu tumpuan hasil uji klinis untuk melihat efektiftas paclitaxel pada kanker payudara. Di sini terlihat bahwa derma paclitaxel mempunyai dampak lebih baik (survival atau kesintasan lebih lama) pada pasien kanker payudara dengan yang mempunyai verbal penanda tumor (biomarker) HER2 positif (sisi kanan) dibanding pada pasien kanker payudara dengan HER2 negatif (sisi kiri). Nampak pada pasien HER2 positif, separuh lebih pasien tidak mengalami kekambuhan 12 tahun semenjak diagnosis. Bandingkan dengan pasien HER2 positif yang tidak diberikan paclitaxel dimana hampir separuh sudah mengalami kekambuhan di rentang waktu yang sama.
Konsep uji klinis perlu dimiliki oleh setiap peneliti yang berusaha mencari obat gres dan juga pasien ketika mempertimbangkan taktik terapi yang sempurna bersama dokter yang merawatnya.
![]() |
| Hasil uji klinis Paclitaxel pada kanker payudara tergantung pada status ekpresi gen HER2 Hayes et al 2007 |
3. Dampak Penyiaran
Kurang dari tiga hari semenjak penayangan Bajakah, banyak sekali produk siap jual mulai bermunculan dengan label klaim "menyembuhkan penyakit antara lain kanker payudara". Ketika saya melihat tayangan Aiman di Kompas TV, bahwasanya saya berharap Aiman lebih dalam investigasinya dan akan lebih elok untuk tidak menekankan kata 'sembuh'.
Di sini media arus utama bahwasanya mempunyai kiprah penting dalam meng-edukasi masyarakat. Akan sangat anggun untuk menampilkan juga wawancara dengan pakar kesehatan dan menerangkan konsep uji klinis, mengapa uji klinis itu penting, dan mengapa penelitian perlu dilakukan secara sinergi.
Yang tidak kita harapkan yaitu pasien kanker payudara beramai-ramai meninggalkan terapi konvensional dan mulai mengkonsumsi ekstrak Bajakah, atau herbal lain.
Studi dari Taiwan yang melibatkan tidak kurang dari 35 ribu pasien yang terdiagnosa kanker payudara semenjak tahun 2004 hingga 2010, dan follow up terakhir tahun 2012, memberikan kita dua macam pelajaran. Pertama, pentingnya sentra pendaftaran kanker untuk memantau angka tragedi secara akurat dan menyimpan informasi terapi dan kesintasan pasien secara nasional. Kedua, kita bisa melihat dampak kesintasan jawaban penolakan pasien kanker payudara terhadap terapi konvensional. Tentu sangat tidak beretika, untuk membandingkan kesintasan antara pasien yang dirandomisasi untuk diberikan terapi vs tanpa terapi. Namun pasien yang secara sadar menolak untuk diterapi memperlihatkan kita informasi apakah ada perbedaan kesintasan yang bermakna. Ironisnya, pasien kanker payudara Taiwan ini 100% bisa mengakses asuransi nasional, jadi penolakan terapi kanker payudara bukan disebabkan oleh faktor finansial.
Data dibawah ini memperlihatkan bahwa 3,5% atau 1,243 pasien yang menolak diterapi (atau terlambat terapi 4 bulan paska diagnosis) mempunyai survival atau probabilitas kesintasan lebih kecil dibandingkan kelompok pasien yang mengikuti terapi konvensional (bedah, kemoterapi, radioterapi, terapi target).
![]() |
| Pasien yang menolak atau terlambat terapi (garis putus) mempunyai kesintasan lebih jelek dibandingkan pasien yang mengikuti terapi (garis keras) dari Chen et al 2015. |
Referensi
Hayes DF, Thor AD, Dressler LG, et al. HER2 and Response to Paclitaxel in Node-Positive Breast Cancer. N Engl J Med. 2007;357(15):1496-1506. doi:10.1056/NEJMoa071167.
Jennewein, S et al Taxol biosynthesis: Taxane 13α-hydroxylase is a cytochrome P450-dependent monooxygenase. Proceedings of the National Academy of Sciences Nov 2001, 98 (24) 13595-13600; DOI: 10.1073/pnas.251539398
Dani M, Pinder S, Baum M, Fentiman IS (2015) A Long Breast Cancer Remission without Standard Therapy. J Clin Case Rep 5:569. doi:10.4172/2165- 7920.1000569
Chen SJ, Kung PT, Huang KH, Wang YH, Tsai WC. Characteristics of the Delayed or Refusal Therapy in Breast Cancer Patients: A Longitudinal Population-Based Study in Taiwan. PLoS One. 2015;10(6):e0131305. Published 2015 Jun 26. doi:10.1371/journal.pone.0131305
Spontaneous “healing” of breast cancer https://link.springer.com/article/10.2325/jbcs.12.140
Salman, T. Spontaneous tumor regression, Journal of Oncological Science, Volume 2, Issue 1, 2016, Pages 1-4 https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2452336416300255#bib34








0 Response to "Apakah Kayu Bajakah Bisa Menyembuhkan Kanker Payudara?"
Posting Komentar