Kayu Bajakah Sang Anti Kanker Asal Kalimantan Yang Mendunia

Kayu Bajakah Obat Kanker, Khasiat Kelakai Diteliti Fakultas Kedokteran ULM
TIGA siswa SMAN 3 Palangka Raya mengharumkan Indonesia di ajang internasional. Mereka yaitu Yazid, Anggina Rafitri dan Aysa Aurealya Maharani meneliti kandungan kayu bajakah yang berguna bagi penyembuhan kanker.
ALHASIL riset tiga siswa ini berhasil menyabet medali emas World Invention Olympic (WICO) di Seoul, Korea Selatan dengan menyingkirkan 22 penerima lainnya dari banyak sekali negara yang ikut berkompetisi.
Ada fakta yang menarik, ternyata sebelum memutuskan ikut ajang Youth National Science Fair 2019 (YNSF) yang dilaksanakan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Mei 2019 silam, ketiga siswa ini mengujicoba kandungan kayu bajakah di Laburatorium Fakultas Kedokteran ULM.
Hal ini dibenarkan Eko Suhartono, peneliti Biokimia dan Biomlekuler Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat (FK ULM). Eko mengaku takjub dengan kandungan kayu bajakah, terlebih tumbuhan ini merupakan tumbuhan orisinil Kalimantan.
Eko mengatakan, kayu bajakah gres diketahuinya ketika dikenalkan oleh siswa asal Palangkaraya yang jadinya menjadi juara itu. Ketika itu, para siswa tersebut mendatangi laboratorium FK ULM meminta untuk dilakukan penelitian terhadap kayu bajakah.
Tak berpikir lama, Eko langsung tertarik. Ia pun ketika ini fokus mencari apa nama latin yang sempurna dari kayu bajakah tersebut.
“Saya gres dengar dan gres tahu namanya kemarin ketika tiga siswa SMAN III Palangkaraya tiba membawa kayu Bajakah ke Lab FK ULM, kini saya lagi lacak nama ilmiahnya,” ujar Eko ketika dihubungi jejakrekam.com , Rabu (14/8/2109).
Kepala Sekolah Sekolah Menengah kejuruan Telkom Banjarbaru ini menyampaikan pada ketika itu laboratorium FK ULM melaksanakan penelitian secara kuantitatif untuk mencari konsetrat dan kandungan senyawa dari kayu bajakah.
Hasilnya pun mengembirkan, dari hasil penelitian yang dilakukannya hingga 3 bulan, kayu bajakah ternyata bisa membunuh sel kanker yang diujicobakan pada mencit atau tikus putih. “Riset ini masih tahap awal, untuk menjadi obat fitofarmaka masih perlu waktu dan riset yang lebih mendalam,” kata Eko.
Ia pun menyarankan semoga para siswa tersebut mematenkan penemuan mereka. “Bisa dipatenkan, bukan obatnya tapi cara pembuatannya dan konsetrasinya, yang punya gagasan kan mereka, di sini hanya membantu untuk meneliti, walaupun kita mengerjakannya sama-sama,” ucapnya.
Eko memastikan Laboraturium Fakultas Kedokteran ULM memang meneliti kandungan tumbuhan lokal selain kayu bajakah untuk kebutuhan medis. “Hingga ketika ini, kami banyak meneliti tumbuhan hutan menyerupai kelakai, gemor, manggarsih dan lain-lain. Semuanya masih berproses dan bertahap,” tandas Eko
Bajakah Ada Banyak Jenis dan Khasiatnya, Ini Penjelasan David Suwito
BAJAKAH dalam bahasa Dayak Ngaju berarti akar-akaran. Sedangkan, dalam bahasa Maanyan dinamakan wakai, yakni ratusan spesies tumbuhan pembelit-pemanjat yang ada di hutan hujan Kalimantan. Jadi, bajakah bukan spesies, tapi nama sekelompok akar-akaran.
HAL ini diungkapkan David Suwito, Widyaiswara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam akun facebooknya, David Su yang dikutip jejakrekam.com, Kamis (15/8/2019).
Menurut David Suwito, pemanfaatan bajakah untuk obat kanker sudah dilakukan masyarakat Dayak Ngaju semenjak ratusan tahun silam dari kearifan lokal masyarakat setempat.
“Jadi, adik-adik Sekolah Menengan Atas 2 Palangka Raya kemarin bukan penemu pertama, hanya memperkenalkan dunia tumbuhan bajakah dalam upaya mempresentasikan tumbuhan khas hutan hujan Kalimantan dan itu layak untuk diapresiasi,” ucap David Suwito.
Mahasiswa doktoral ilmu lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini mengingatkan semoga berhati-hati memakai bajakah untuk pengobatan kanker. Menurut David Suwito, hanya penduduk orisinil yang mengetahui bakajah yang asli, sehingga bagi orang yang tak mempunyai penyakit bila mengkonsumsi malah menjadi racun.
“Ada kandungan materi aktif yang besar lengan berkuasa di dalamnya yang akan berbahaya,” beber David.
Jebolan Master of Environmental and Energy Management, University of Twente, Enschede Belanda ini mengungkapkan ada bajakah merah yang airnya bisa diminum dari tebasan batangnya, namun tak punya khasiat. Ada pula, berdasarkan David, bajakah yang bersifat racun yang digunakan sebagai tuba untuk menciptakan ikan lemas, dengan terlebih dulu dipikul hingga berbusa.
“Bajakah juga bisa digunakan sebagai sampo untuk mencegah kerontokan rambut. Ada pula bajakah yang digunakan untuk mengusir makhluk halus, bajakah untuk mengikat sesuatu, anti bisa ular, untuk sabun mandi, obat penyakit kulit, obat KB, obat kuat, ada lagi bajakah untuk menyembuhkan keputihan,” tutur sarjana administrasi hutan Universitas Palangka Raya ini.
Masih berdasarkan David Suwito, ada pula bajakah untuk memperbesar penis, ada bajakah sangat beracun yang getahnya buat mata sumpit, ada bajakah tempat ayun-ayun dan main di hutan dan ratusan lainnya.
“Jadi, jangan asal konsumsi bajakah. Karena bila tidak sesuai jenisnya, malah bisa membawa maut. Nah, berdasar pengalaman dan kesaksian, hanya bajakah kuning yang viral itu efektif untuk kanker payudara,” kata David Suwito.
Untuk itu, peraih S2 Perencanaan Pengelola SDA dan Lingkungan Universitar Padjajaran (Unpad) Bandung ini juga menyarankan dengan ratusan jenis bajakah bila ingin untuk pengobatan harus dipastikan diantar penduduk lokal yang sudah mengenal tumbuhan itu secara turun temurun.
“Selain bajakah, sebetulnya yaitu ribuan jenis tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Dayak di Kalimantan,” ucap David Suwito yang berdarah Dayak Maanyan ini.
Dalam postingannya lagi, David Suwito juga meminta berhati-hati dengan penawaran akar bajakah yang tengah boming dengan harga Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per bungkus. Menurut dia, bajakah kuning yang berguna itu juga mempunyai khasiat berbeda.
“Bajakar akar kuning itu memang obat, tapi obat diabetes dan gangguan fungsi hati bukan kanker. Berdasar tetua kampung atau andal pengobatan Dayak Ngaju, bajakah untuk kanker juga harus ada aturannya, tidak bisa direbus dan diminum begitu saja,” tutur David.
Ia menguraikan paling umum aturannya yaitu yang sakit ikut ke hutan untuk minum air langsung dari tebasan pertama di hutan, gres dilanjutkan dengan minum rebusannya. Tahap kedua, ketika memakai bajakah ini dilarang mengkonsumsi cabai dan lada dalam bentuk apapun.
“Setelah sembuh, ada ada pamali khusus (pantangan khusus) yaitu tidak boleh mengkonsumsi kuliner olahan yang berpengawet. Biasanya hanya disarankan makan sayur, jamur dan juhu ikan sungai segar,” tuturnya.
David menjelaskan juhu merupakan masakan khas Dayak yang dibumbui menyerupai asam kuning plus diberi sayuran hutan atau sayur organik dari ladang. “Berikutnya, dilarang makan kuliner hangus atau berkerak,” katanya.
Untuk ke hutan, pengambilan bajakah untuk kanker ini ada syaratnya juga, semisal beras dan telur dalam piring untuk meminta izin ke “pemilik hutan”. Begitu pula, dalam kondisi khusus, tabib tradisional juga akan mengkombinasikan dengan konsumsi bawang Dayak merah dan akar benalu,” tuturnya.
Sumber Berita : http://jejakrekam.com/2019/08/15/bajakah-ada-banyak-jenis-dan-khasiatnya-ini-penjelasan-david-suwito/
Muncul Seruan 'Patenkan' Akar Bajakah, Siapa yang Berhak Melakukan?
Jakarta - Siswa SMAN 2 Palangkaraya meneliti akar bajakah sebagai obat kanker payudara dan menang dalam sebuah kompetisi internasional. Sejak itu, muncul permintaan untuk mematenkan herba orisinil tanah Dayak tersebut.
Berkat riset itu, dua siswa SMAN 2 Palangkaraya, Kalimantan Tengah, bisa mengharumkan nama Indonesia di ajang kompetisi Life Science di Seoul, Korea Selatan 2019. Namun, apakah serta merta akar bajakah bisa dipatenkan?
Ahmad Fathoni, M.Si dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Pusat Penelitian Biologi menyampaikan bahwa sebelum dipatenkan, suatu materi obat harus memenuhi aspek aman, berguna dan berkualitas. Selain itu juga harus terjaga dan terstandar.
"Sebenarnya paten itu untuk tujuan komersial lantaran paten yaitu hak langsung inventor atas invensi di bidang teknologi selama waktu tertentu melaksanakan sendiri atau menawarkan persetujuan kepada pihak lain untuk melaksanakan invensinya," katanya pada detikHealth. Rabu (13/8/2019).
Setelah diteliti, akar bajakah akan meningkat klasifikasinya menjadi bentuk sediaan Obat Herbal Terstandar (OHT). Setelah itu, gres bisa dipatenkan. Tahapan riset yang diharapkan untuk menuju ke sana bisa disimak dalam artikel berikut:
Jalan Panjang Akar Bajakah untuk Bisa Kaprikornus Obat Kanker Payudara
Jakarta - Viral herba tradisional suku Dayak dari tumbuhan Bajakah yang disebut-sebut bisa menyembuhkan kanker payudara. Bermula dari penelitian siswi SMAN 2 Palangkaraya yang menjuarai sebuah kompetisi di Korea Selatan, tumbuhan ini lantas bikin penasaran.
Koordinator Klinik Saintifikasi Jamu Hortus Medicus Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Danang Ardiyanto, mengingatkan butuh proses panjang bagi sebuah obat tradisional untuk bisa diterima sebagai terapi standar.
Ia menyampaikan ada beberapa tahapan uji yang terlebih dulu harus dilakukan untuk memastikan kebenaran suatu obat herbal bisa menyembuhkan suatu penyakit.
"Butuh waktu 3 hingga 20 tahun untuk klaim menyembuhkan," kata Danang ketika dihubungi detikHealth, Selasa (13/8/2019).
Proses riset memakan waktu bertahun-tahun alasannya harus melewati beberapa fase penelitian yang panjang. Mulai dari uji pra klinik hingga dengan uji klinik.
Menurut Danang, riset biasanya dimulai dengan uji pra klinik pada binatang yang terdiri dari 5 tahapan.
1. Uji eksperimental in Vitro
Tujuannya untuk menunjukan klaim sebuah obat. Ekstrak diberikan pada sebagian organ yang terisolasi, kultur sel atau mikroba. Pengamatan dilakukan pada imbas yang ditimbulkan.
2. Uji eksperimental in Vivo
Pengujian dilakukan pada binatang percobaan menyerupai tikus, kucing, anjing, kelinci, dan mencit untuk menunjukan klaim obat.
3. Uji toksisitas akut
Tujuannya untuk mengetahui LD (Lethal Dose) 50 sebuah obat. Semakin tinggi LD 50, maka obat semakin aman.
4. Uji toksisitas Subkronik
Setiap hari dalam 3 bulan, binatang diberi ekstrak. Tujuannya untuk mengamati kelainan tanggapan konsumsi obat yang diamati. Efek akumulasi obat menjadi fokus dalam tahap ini.
5. Uji toksisitas khusus
Tujuannya untuk melihat keamanan obat dalam jangka panjang.
Bila obat terbukti kondusif dan berguna pada binatang coba, maka riset bisa dilanjutkan ke tahap selanjutnya yaitu uji klinik pada manusia. Uji klinik pada insan terdiri dari 4 fase.
1. Uji klinis fase 1
Untuk mengetahui imbas dan farmakokinetik (proses obat semenjak diminum hingga ke luar dari tubuh). Uji ini dilakukan pada relawan yang sehat untuk mengetahui keamanannya.
2. Uji klinis fase 2
Obat diberikan bagi orang sakit untuk menunjukan khasiatnya.
3. Uji klinis fase 3
Jumlah sukarelawan diperbanyak dan lokasi diperluas. Jika obat teruji kondusif gres bisa memasuki tahap selanjutnya untuk sanggup izin edar dan dipasarkan.
4. Post, Marketing, Surveillance
Fase ini untuk memastikan obat yang beredar di masyarakat tidak ada bahayanya dan mempunyai harga yang baik.
Sumber Artikel : https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4664158/jalan-panjang-akar-bajakah-untuk-bisa-jadi-obat-kanker-payudara
"Timbal baliknya adalah, adanya royalti atas paten tersebut bila dikomersialkan," lanjut Ahmad.
Dalam rilis resminya, LIPI mengapresiasi riset wacana akar bajakah yang dilakukan para siswa Sekolah Menengan Atas N 2 Palangkaraya. Riset ini mengingatkan tingginya keragaman budaya dan warisan pengetahuan tradisional di bidang pengobatan.
"Kita patut besar hati atas prestasi anak bangsa yang luar biasa sehingga sanggup mengharumkan negara kita," demikian dikutip dari rilis tersebut.
Sumber Berita : https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4665605/muncul-seruan-patenkan-akar-bajakah-siapa-yang-berhak-melakukan?_ga=2.238456964.589064098.1565921781-1006181666.1565921781
Viral 2 Siswi Sekolah Menengan Atas Temukan Obat Kanker Payudara dari Herba Tradisional Dayak
Jakarta - Media sosial belakangan ini dihebohkan oleh prestasi 2 siswi SMAN 2 Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Keduanya meneliti herba tradisional Suku Dayak untuk obati kanker payudara.
Dua putri dari tanah Dayak tersebut berhasil mencetak prestasi yang membanggakan bagi Indonesia di mata dunia.
Aysa Aurealya Maharani dan Anggina Rafitri sukses memperkenalkan obat tradisional yang bisa menyembuhkan penyakit tumor ganas, yaitu kanker payudara, di kompetisi internasional.
Dikutip dari Official Account Indonesian Young Scientist Association (IYSA), Aysa dan Anggina sebelumnya telah mengikuti lomba Youth National Science Fair 2019 (YNSF) di Universitas Pendidikan Bandung (UPI).
Setelah lolos menjadi salah satu pemenang di perlombaan YNSF, keduanya dikirim sebagai perwakilan dari Indonesia untuk mengikuti World Invention Creativity (WICO) di Seoul, Korea Selatan pada 25-27 Juli 2019 lalu.
Kedua siswi dari SMAN 2 Kota Palangka Raya ini berhasil meraih Gold Medals dalam ajang WICO melalui obat kanker yang dihasilkan dari tumbuhan alami. Tamanan yang mereka perkenalkan dalam ajang tersebut yaitu Akar Bajakah Tunggal yang berasal dari tanah Kalimantan Tengah.
Diberitakan detikHealth sebelumnya, kanker payudara terjadi tanggapan pertumbuhan sel-sel dibagian payudara secara gila dan tidak terkendali. Sel tersebut akan membelah dengan waktu yang sangat cepat dan berkumpul untuk membentuk sebuah benjolan. Pada akhirnya, sel tersebut akan menyebar ke bab organ badan lainnya.
Sayangnya, ketika dihubungi detikHealth, Aysa maupun Anggina masih belum berkenan untuk diwawancara. Demikian juga dengan guru pembimbing mereka, Helita, mengaku belum mempunyai waktu untuk menjawab pertanyaan seputar prestasi kedua siswi bimbingannya tersebut.
"Maaf, untuk sementara ini kami lagi padat, Mbak," kata Helita.
Aysa Aurealya Maharani dan Anggina Rafitri (dok: IYSA) Sumber Berita : https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4661702/viral-2-siswi-sma-temukan-obat-kanker-payudara-dari-herba-tradisional-dayak
Punya Riset Seperti Akar Bajakah? FKUI Siap Dampingi Pengembangannya
Jakarta - Belakangan, Indonesia digemparkan oleh 'penemuan' obat dari akar bajakah yang dipercaya untuk kanker payudara. Siswa SMAN 2 Palangkaraya yang melaksanakan riset soal itu digadang-gadang sebagai generasi muda keinginan bangsa.
Wakil Ketua Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI), Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI), Prof DR dr Budi Wiweko, SpOG(K), MPH, menyampaikan pihaknya membuka peluang untuk mendaftarkan wangsit apapun dibidang kesehatan. Itu memang kiprah dari Technology Transfer Office (TTO) untuk menyebarkan penemuan yang ada.
"Silahkan daftarkan wangsit atau penemuan apapun di bidang kesehatan ke IMERI. Kita akan dampingi ide-ide tersebut semoga bisa menjadi kenyataan. Atau paling tidak menjadi prototype," jelasnya ketika ditemui di tempat Jakarta Pusat, Kamis (15/8/2019).
Prof Iko, sapaan akrabnya, menyampaikan IMERI sangat terbuka untuk umum. Sudah 3 kali mengadakan open innovation yang pesertanya berasal dari SMA, mahasiswa S1 hingga S3.
"Di sana untuk penemuan dibidang kesehatan, mereka kita ajak, kita jelaskan dan dibina, untuk memahami fokus dalam melaksanakan pengembangan inovasi. Fokus tersebut ialah keamanan pasien," lanjutnya.
Prof Iko juga mengatakan, sebagai forum penelitian pertama di Indonesia, IMERI juga melaksanakan untuk melaksanakan pembinaan kepada inovator dan inventor. Hal ini berguna untuk memilih arah penelitian semoga produknya bisa aman, nyaman, dan berguna baik untuk manusia.
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia siap dampingi penemuan bidang kesehatan. (Foto ilustrasi: Ari Saputra)
Sumber Berita : https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4667728/punya-riset-seperti-akar-bajakah-fkui-siap-dampingi-pengembangannya?_ga=2.27226681.589064098.1565921781-1006181666.1565921781
Sebelum Bajakah Viral, Tanaman Ini Lebih Dulu Diteliti Kaprikornus 'Obat' Kanker
Jakarta - Banyak orang masih dibentuk ingin tau dengan tumbuhan Bajakah yang katanya sanggup menyembuhkan kanker payudara. Segala sesuatu wacana Bajakah masih menjadi buah bibir yang hangat diperbincangkan. Tapi ternyata ada beberapa tumbuhan 'obat' kanker yang sudah lebih dulu diteliti oleh Kementerian Kesehatan RI.
Melalui Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (Ristoja), Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) telah melaksanakan penelitian pada 405 etnis di 34 provinsi di Indonesia pada tahun 2012, 2015 dan 2017. Ristoja telah berhasil mengidentifikasi 2.848 spesies tumbuhan obat dan 32.014 ramuan.
Berikut beberapa tumbuhan obat untuk pengobatan kanker atau tumor yang telah diteliti Ristoja dari tahun ke tahun:
1. Tahun 2012, Ristoja menginventarisasi 506 ramuan jamu untuk pengobatan tumor atau kanker. Sebagai pola tumbuhan Malapari di Bengkulu, dan Alang-alang di Sulawesi Tengah, dan Samama di Maluku Utara.
2. Tahun 2015, Ristoja juga mendapat informasi tumbuhan obat yang digunakan dalam ramuan untuk tumor atau kanker yaitu :
- Kunyit atau kunir (Curcuma longa L.)
- Sirsak (Annona muricata L.)
- Mengkudu (Morinda citrifolia L.)
- Sirih (Piper betle L.)
- Sambiloto (Andrographis paniculata (Burm.f.) Nees)
- Benalu Kopi (Scurrula ferruginea (Jack) Danser)
- Temulawak (Curcuma zanthorrhiza Roxb.)
- Benalu teh (Scurrula atropurpurea (Blume) Danser.)
Aikabasa digunakan oleh salah satu suku di Nusa Tenggara Timur untuk mengatasi tumor atau kankerYuli Widiyastuti - Peneliti Herba Kemenkes RI |
- Kunyit (Curcuma longa L.,)
- Sirsak (Annona muricata L.,)
- Jahe (Zingiber officinale Roscoe)
- Pinang (Areca catechu L.)
- Bawang merah (Allium cepa L.)
- Bawang putih (Allium sativum L.)
- Sangkareho (Callicarpa longifolia Lam.)
- Putri aib (Mimosa pudica L.)
- Pulai (Alstonia scholaris (L.) R. Br.)
- Sembung (Blumea balsamifera (L.) DC.)
4. Tahun 2018 dilakukan skrining in-vitro terhadap tumbuhan obat maupun formula jamu yang dimanfaatkan untuk tumor dan antikanker. Dari hasil pengujian terhadap beberapa sel kanker (sel kanker payudara, sel kanker kolon, dan sel kanker serviks) diketahui bahwa ada beberapa tumbuhan yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai obat antikanker yaitu:
- Sembung rambat (Mikania micrantha Kunth)
- Leucas lavandulifolia Sm.
- Sangkarebo (Callicarpa longifolia Lam.)
- Nyamplung (Calophyllum inophyllum L.)
- Tetracera scandens (L.) Merr.
- Akar batu/aikabasa (Cucurbitaceae).
Yuli Widiyastuti, Peneliti di Balai Besar Tanaman Obat dan Obat Tradisional Tawangmangu, menawarkan klarifikasi bahwa sama menyerupai bajakah, terdapat akar tumbuhan menjalar yang telah digunakan secara turun temurun untuk mengatasi kanker yaitu Aikabasa.
"Aikabasa digunakan oleh salah satu suku di Nusa Tenggara Timur untuk mengatasi tumor atau kanker. Namun hingga ketika ini belum berhasil diidentifikasi hingga level spesies," kata Yuli dalam rilis Kementrian Kesehatan RI.

Sumber Berita : https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4667663/sebelum-bajakah-viral-tanaman-ini-lebih-dulu-diteliti-jadi-obat-kanker?_ga=2.27226681.589064098.1565921781-1006181666.1565921781
Ternyata, Bajakah Bukan Nama Tanaman!
Jakarta - Siswa SMAN 2 Palangkaraya bikin heboh dengan risetnya wacana akar bajakah untuk obat kanker payudara. Banyak yang penasaran, tumbuhan apa bajakah itu sesungguhnya?
Kementerian Kesehatan RI dalam rilisnya menyampaikan bakal segera menelusuri tumbuhan bajakah yang bikin heboh belakangan ini. Hingga ketika ini, belum terang betul tumbuhan apa yang dimaksud.
"Bajakah sebetulnya yaitu sebutan bagi batang menjalar yang menjadi bab dari tanaman. Istilah tumbuhan bajakah belum merujuk pada jenis spesies tertentu," demikian penggalan rilis tersebut, menyerupai dikutip pada Jumat (16/8/2019).
Kepala Balai Besar Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2TOOT) Tawangmangu, Akhmad Saikhu, mengingatkan untuk tidak langsung percaya terhadap klaim bajakah bisa menyembuhkan penyakit kanker. Menurutnya, hal itu masih butuh penelitian lebih lanjut.
"Penggunaan obat tradisional atau jamu untuk menguatkan daya tahan badan boleh saja. Namun tidak bisa dikatakan itu menyembuhkan kanker," kata Saikhu.
Bajakah sebetulnya yaitu sebutan bagi batang menjalar yang menjadi bab dari tanaman. Istilah tumbuhan bajakah belum merujuk pada jenis spesies tertentuKemenkes RI |
Melalui Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (Ristoja), Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) juga telah membangun database ramuan obat tradisional. Database tersebut juga meliputi ramuan maupun tanaman-tanaman yang berpotensi mengatasi kanker dari seluruh penjuru nusantara.
Tahun 2017, teridentifikasi ada 223 ramuan untuk kanker yang tediri dari 244 tumbuhan obat. Sepuluh jenis tumbuhan obat yang paling banyak dimanfaatkan untuk pengobatan tumor maupun kanker yaitu sebagai berikut:
1. Kunyit (Curcuma longa L.,)
2. Sirsak (Annona muricata L.,)
3. Jahe (Zingiber officinale Roscoe)
4. Pinang (Areca catechu L.)
5. Bawang merah (Allium cepa L.)
6. Bawang putih (Allium sativum L.)
7. Sangkareho (Callicarpa longifolia Lam.)
8. Putri aib (Mimosa pudica L.)
9. Pulai (Alstonia scholaris (L.) R. Br.)
10. Sembung (Blumea balsamifera (L.) DC.)
Sumber Berita : https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4667649/ternyata-bajakah-bukan-nama-tanaman?_ga=2.27226681.589064098.1565921781-1006181666.1565921781
Kalau Tak Kaprikornus Obat, Bisakah Akar Bajakah Dipatenkan Sebagai Jamu?
Jakarta - Masyarakat menuntut pemerintah untuk segera mematenkan penelitian mengenai akar dan kayu bajakah sebagai obat menyembuhkan kanker payudara. Meski mematenkan riset masih sangat memungkinkan, namun prosesnya tidak gampang dan sangat panjang untuk mengklaim bajakah benar-benar berguna dan bisa dijadikan obat.
"Proses dari akar bajakah hingga menjadi single compound itu panjang sekali. Bisa hingga 20-25 tahun," sebut Wakil Direktur Medical Education Research Insitute (IMERI) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Dr dr Budi Wiweko, SpOG(K), MPH, ketika dijumpai detikHealth, Kamis (15/8/2019)
Prof Iko, sapaannya, menyebut ketika ini akar bajakah masih harus diteliti untuk menemukan zat aktif yang paling efektif untuk menyembuhkan kanker payudara. Namun tidak jadi dilema bila masyarakat masih ingin mengonsumsinya dengan cara direbus tanpa ekstraksi.
"Pokoknya minum aja sejumput, direbus, namanya jamu itu nggak apa-apa tapi bukan obat," katanya.
Lalu, bila akar bajakah tak diteliti lebih lanjut sebagai obat dan hanya berakhir sebagai jamu, apakah penelitian tersebut masih bisa dipatenkan? "Patenkan saja jamunya," menyerupai yang ditulis salah seorang pembaca detikHealth di kolom komentar.
Di sana banyak sekali Traditional China Medicine (TCM) yang begitu hebat lantaran pemerintahnya mengawasi dengan sangat baik. Orang turis aja mampir kok beli obat China segala macam isinya apa, mahal pula.Prof Dr dr Budi Wiweko, SpOG(K), MPH - Peneliti FKUI |
Prof Iko menyebut, mematenkan akar bajakah sebagai jamu sangat mungkin dilakukan tetapi dengan pengawasan dan santunan penuh dari pemerintah. Berkaca dari China yang mempunyai banyak sekali obat-obatan herbal dan populer di seluruh dunia.
"China, di sana banyak sekali Traditional China Medicine (TCM) yang begitu hebat lantaran pemerintahnya mengawasi dengan sangat baik. Orang turis aja mampir kok beli obat China segala macam isinya apa, mahal pula. Indonesia kan punya jamu sebenarnya," tuturnya.
"Kalau tumbuhan bajakah ketemu ekstraksinya dan mau dipatenkan jamunya, bisa kita kawal," sambungnya.
Saat ini, IMERI berafiliasi dengan salah satu perusahan farmasi untuk meneliti ekstrak bioactivation dari banyak sekali jenis tumbuhan salah satunya kayu anggun yang sudah ditemukan dua zat aktif dan bermanfaat bagi pengidap kencing manis.
"Kalau akar bajakah bisa dilihat potensinya dengan baik, kita niscaya akan mendampingi hingga terus bisa menjadi simplisia atau bioactivation," pungkasnya.
Sumber Berita : https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4667138/kalau-tak-jadi-obat-bisakah-akar-bajakah-dipatenkan-sebagai-jamu?_ga=2.27226681.589064098.1565921781-1006181666.1565921781
Heboh Kayu Bajakah, Kenapa Banyak Riset Obat Cuma 'Mangkrak' di Jurnal?
Jakarta - Riset kayu dan akar bajakah oleh siswa Sekolah Menengan Atas Palangkaraya yang memenangkan penghargaan internasional memperlihatkan bahwa Indonesia mempunyai potensi besar dalam hal penelitian di bidang kesehatan. Sayangnya ketika ini masih banyak penelitian yang hanya berujung pada makalah, disertasi, dan publikasi sehingga kurang bermanfaat bagi masyarakat luas.
Diterangkan oleh wakil Direktur Medical Education Research Insitute (IMERI) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Dr dr Budi Wiweko, SpOG(K), MPH, ketika ini IMERI memang sudah mempunyai sub divisi drug development research center yang bertugas untuk mengenali, mencari, mengidentifikasi substrak yag berpotensi mempunyai ekstrak obat hanya saja yang sudah diproduksi bisa dihitung jari.
Masyarakat kita sangat gampang disentil oleh isu yang baru, digulung. Apalagi yang disasar yaitu penyakit yang susah disembuhkan, biayanya mahal, banyak penderitanya..Prof Dr dr Budi Wiweko, SpOG(K), MPH, - Peneliti FKUI |
"Sampai kini dari IMERI belum ada yang jadi obat atau diproduksi massal hanya ada beberapa yang sudah mulai didekati oleh industri. Belum ada yang belum ada menjadi produk kecuali stemcell yang sudah dikomersialisasikan," katanya ketika dijumpai detikHealth, Kamis (15/8/2019).
Kendala utama yang menciptakan banyak hasil riset menjadi mangkrak yaitu belum adanya Technology Transfer Office (TTO) sebagai jembatan yang bisa menghubungkan antara peneliti dan industri. Padahal kiprah TTO yaitu membawa penelitian ke ranah industri dan terapan.
"Selain itu ada hambatan dari segi pemerintahan sehingga private sector kadang sulit untuk mau masuk," tambahnya.
Tantangan selanjutnya yaitu proses penelitian yang memakan waktu, tenaga, dan biaya cukup besar dan tidak diimbangi dengan dana penelitian pemerintah yang hanya 0,03 persen dari anggaran negara. "Makanya kita harus punya TTO yang bisa menjadi perencana semoga peneliti, pihak industri dan pemerintah juga bisa bersinergi,"
'The Power of Socmed'
Soal riset akar bajakah beberapa waktu lalu, Prof Iko memberi komentar bahwa masyarakat menjadi sangat heboh didasari lantaran masifnya pemberitaan di media umum apalagi sasarannya yaitu penyakit yang pembiayaannya besar dan sulit disembukan.
"The power of media. Medsos kan cepat sekali. Masyarakat kita sangat gampang disentil oleh isu yang baru, digulung. Apalagi yang disasar yaitu penyakit yang susah disembuhkan, biayanya mahal, banyak penderitanya, dikasih hope makanya musti diluruskan," sebutnya.
Meski demikian, Prof Iko sangat mengapresiasi hasil penelitian akar bajakah dari kedua siswi tersebut. IMERI bahkan siap membantu bila mereka ingin melaksanakan penelitian lebih lanjut mengenai manfaat akar bajakah.
"Yang terang kita menghargai itu sebuah inovasi. Hanya kita musti lihat, yang ditemukan itu apa. Mereka juga bisa internship jadi pas liburan sekolah ke IMERI, nanti kita ajarkan," pungkasnya.
Sumber Berita : https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4666932/heboh-kayu-bajakah-kenapa-banyak-riset-obat-cuma-mangkrak-di-jurnal?_ga=2.27226681.589064098.1565921781-1006181666.1565921781
Boleh Saja Berharap Bajakah Bakal Kaprikornus Obat, Tapi Ada Pesan dari Ahli Kanker
Jakarta - Tanaman bajakah dari Kalimantan menjadi pembicaraan sehabis dianggap bisa mengobati kanker payudara. Bajakah menjadi materi riset Aysa Aurealya Maharani dan Anggina Rafitri dalam World Invention Creativity (WICO) di Seoul, Korea Selatan pada 25-27 Juli 2019.
Dokter andal kanker, Prof Dr dr Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD, KHOM, FACP, mengakui prestasi tersebut tentunya menjadi pujian negara. Namun Prof Aru mengingatkan risiko overklaim lantaran manfaat bajakah masih perlu riset lebih lanjut.
"Pasien boleh saja berharap dengan fungsi akar bajakah dalam menangani kanker. Tapi harus diingat, bajakah masih perlu penelitian lanjutan untuk mengetahui keuntungannya pada penanganan kanker. Konsumsi bajakah jangan hingga menggantikan obat yang khasiatnya telah terbukti," kata Prof Aru, Kamis (15/8/2019).
Prof Aru sendiri menyambut baik hasil riset dari 2 siswa SMAN 2 Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Menurutnya tidak gampang bagi kedua siswa Sekolah Menengan Atas tersebut untuk mencari tumbuhan bajakah. Kegigihan dan keuletan keduanya melaksanakan riset tentu harus dihargai.
Riset tersebut tentu harus dimanfaatkan dengan baik untuk kesejahteraan masyarakat. Prof Aru menyarankan semua pihak membantu riset lanjutan terkait bajakah hingga benar-benar terbukti bisa digunakan untuk menangani kanker.
Sumber Berita : https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4666839/boleh-saja-berharap-bajakah-bakal-jadi-obat-tapi-ada-pesan-dari-ahli-kanker?_ga=2.27226681.589064098.1565921781-1006181666.1565921781
Ingin Patenkan Riset Kayu Bajakah dari Kalimantan? Begini Prosesnya
Jakarta - Riset yang dilakukan oleh siswi Sekolah Menengan Atas Palangkaraya mengenai kayu bajakah sebagai alternatif obat penyembuh kanker payudara mendapat respons bermacam-macam dari masyarakat. Sebagian besar menuntut pemerintah untuk segera mematenkan hasil riset tersebut semoga tidak 'dicuri' oleh negara lain.
Wakil Direktur Medical Education Research Insitute (IMERI) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Dr dr Budi Wiweko, SpOG(K), MPH, menuturkan bahwa penelitian yang berpotensi untuk diporduksi dan dikomersialisasi tentu bisa dipatenkan menyerupai kayu dan akar bajakah. Apalagi Indonesia mempunyai banyak tumbuhan herbal yang berpotensi diteliti khasiatnya dan digunakan sebagai obat.
"Kita punya tumbuhan yang luar biasa. Tetapi harus kita pahami juga bahwa akar bajakah mempunyai banyak sekali zat yang berpotensi sebagai obat, dan kita tidak tahu zat mana yang menawarkan imbas teurapetik atau obat-obatan," tutur Prof Iko, sapaannya, kepada detikHealth, Kamis (15/8/2019).
Prof Iko menambahkan, di akar bajakah terdapat ratusan bahkan ribuan zat aktif yang bila ingin disebarkan ke masyarakat harus melalui tahapan identifikasi. Ini dilakukan untuk memilih dari sekian ratus zat aktif, mana yang paling efektif dan mujarab sebagai obat kanker.
"Kalau kita makan bajakah saja tanpa diekstrak atau dipurifikasi, namanya jamu. Ada penelitian lagi untuk mengekstraksi tumbuhan tersebut. Nah kalau sudah jadi compund dan benar-benar hanya satu saja zat yang terbukti, itu gres namanya obat," sebutnya.
Tentu saja, proses untuk memilih satu-satunya zat aktif yang paling efektif untuk menyembuhkan penyakit membutuhkan waktu yang sangat lama. "Proses dari akar bajakah hingga menjadi single compound itu panjang sekali. Bisa hingga 20-25 tahun," kata Prof Iko.
Kalau kita makan bajakah saja tanpa diekstrak atau dipurifikasi, namanya jamu.Prof Dr dr Budi Wiweko, SpOG(K), MPH - Peneliti FKUI |
Untuk penelitian yang bertujuan untuk dijadikan obat dan ingin dipatenkan pun perjalanannya cukup panjang. Peneliti harus memilih terlebih dahulu single compound, cara kerjanya, efektifitas, keamanan, dan jumlah toksik yang ada didalamnya.
Soal pendaftaran paten, misal peneliti sudah menemukan satu zat aktif yang terbukti, penelitian tersebut didaftarkan di Kementerian Hukum dan HAM, Dirjen HAKI (Hak Kekayaan Intelektual).
Tapi sebelumnya dicari tahu lagi apakah penelitian tersebut mempunyai sanggahan, sudah pernah diteliti, atau bantahan terhadap penelitian tersebut.
"Biasanya prosesnya 6 bulan hingga 1 tahun dan kalau sudah punya sertifikat, maka sudah terproteksi. Tapi yang harus diingat, paten itu hanya berlaku 25 tahun. sehabis itu jadi informasi yang bisa digunakan oleh umum," pungkasnya.
Butuh proses panjang untuk mematenkan sebuah riset obat (Foto: iStock)
Sumber Berita : https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4666693/ingin-patenkan-riset-kayu-bajakah-dari-kalimantan-begini-prosesnya?_ga=2.238456964.589064098.1565921781-1006181666.1565921781
0 Response to "Kayu Bajakah Sang Anti Kanker Asal Kalimantan Yang Mendunia"
Posting Komentar